Dejavu?
'Sempurna' dari Andra and The Backbones. Sebagian besar pasti sudah pernah mendengar lagu yang sedang hits di tanah air. Atau malah mungkin sudah bercokol di playlist iPod anda.
mengandung tawa, senang, kagum, sebel, jengkel, protes, sinis, haru, geli, bingung, marah, mimpi, harap, suka, duka, kangen, sok tahu, emosi, pasrah, malu, tanya, takut, gelisah, penasaran, pusing, kesal, cuek, bengong, sirik, sedih, gombal...
'Sempurna' dari Andra and The Backbones. Sebagian besar pasti sudah pernah mendengar lagu yang sedang hits di tanah air. Atau malah mungkin sudah bercokol di playlist iPod anda.
Ketika pergi belanja ke Home Cientro di Kemayoran, saya dan isteri menemukan sebuah gadget baru yang sangat menyenangkan. Mainan baru ini bukan laptop, hape, pemutar musik atau perangkat hiburan, tapi 'cuma' sebuah alat penyedot debu/kotoran alias vacuum cleaner. Namanya Ergorapido dari Electrolux yang menurut penciptanya, berasal dari kata ergonomic dan rapid. 
Sebagai seorang copywriter afkiran, sudah lama saya tak menikmati kehadiran naskah-naskah iklan hebat di jagat periklanan nasional yang membuat saya 'iri' pada penulisnya. Tapi bulan Juli ini, saya dapat 'hadiah' 2 iklan sekaligus! Senangnya...



Jangan dulu terkecoh. Ini sama sekali bukan judul cerita porno semacam stensilan. Judul di atas adalah terjemahan saya untuk judul novel terbaru dari Gabriel Garcia Marquez (dikenal juga dengan panggilan Gabo). Judul asli dalam bahasa Spanyol novel terbaru peraih Nobel Sastra 1982 asal Kolombia ini adalah Memorias de Mis Putas Tristes. Sedangkan judul terjemahan bahasa Inggris yang saya baca adalah Memories of My Melancholy Whores yang diterjemahkan oleh Edith Grossman.

Siapa sih yang tak pernah makan roti bakar? Kalau belum ya kelewatan banget. Wong ini makanan 'standar' yang sering dinikmati sambil mengisi kebersamaan dengan teman-teman di waktu malam. Baik ketika masih sekolah sampai masa kerja. Anak nongkrong Jakarta pasti tidak bisa menyandang gelar anak nongkrong kalau belum pernah nongkrong di Roti Bakar Eddy yang kondang itu. Tapi saya bukan sedang mau membicarakan Roti Bakar Eddy, tapi Roti Bakar 'Mantap Surantap' yang ada di Bandung.
Orang-orang Bandung menyebutnya Roti Bakar Gang Kote (huruf e dibaca dengan lafal e pada kata enak). Namanya sendiri Roti Bakar 234. Saya tidak tahu sejarah nama ini digunakan. Mungkin pemiliknya penggemar rokok kretek 234 alias Dji Sam Soe. Berbeda dengan tempat berjualan roti bakar yang biasanya sekaligus menjadi tempat nongkrong, dari dulu sampai sekarang Roti Bakar 234 a.k.a Roti Bakar Gang Kote tidak pernah menyediakan kursi dan meja duduk. Tempatnya persis di ujung sebuah gang kecil yang terletak di jalan utama kota Bandung. Tapi tak usah khawatir, karena di sepanjang jalan itu mudah sekali untuk parkir. Orang Bandung yang ke sini, biasanya selalu membeli untuk dibawa pulang. Take away, kerennya sih.
Mantapnya rasa Roti Bakar Gang Kote buat saya tidak pernah berubah. Dari jaman SMA 20 tahun lalu (Waduh ketahuan produk jadul ya, hehehe) sampai sekarang. Isi yang ditawarkan sih sama saja dengan lainnya. Ada keju, selai kacang, kornet dan coklat. Lalu apa istimewanya? Menurut saya karena si penjual memproduksi rotinya sendiri dengan standar yang berbeda dari roti bakar lainnya. Sehingga roti yang dipakai selalu tebal berisi dan 'segar'. Kita bisa memilih 2 model roti yang tersedia. Isinya juga selalu 'royal'. Mungkin karena rotinya yang tebal berisi, maka isinya pun harus dibuat lebih banyak agar terasa benar dalamnya. Teknik membakarnya kurang lebih ya sama saja, seperti yang bisa dilihat di foto.
Tertarik mencobanya? Ini dia petunjuk jalannya. Moga-moga cukup untuk memandu buat anda yang tidak kenal kota Bandung. Letak Gang Kote berada di tepi jalan Sudirman yang berada di dekat Alun-Alun Bandung. Jalan Sudirman sangat terkenal. Jadi mudah meminta petunjuk orang di sana. Gang Kote tepat berada di antara perempatan jalan Sudirman dengan jalan Pasar Baru (dari arah Banceuy atau stasion KA) dan perempatan jalan Sudirman dengan jalan Gardu Jati yang banyak berjualan makanan pada malam hari, seperti jalan Pecenongan di Jakarta. Karena jalan Sudirman adalah jalan se arah menuju Barat, maka anda harus datang dari arah Alun-Alun atau perempatan Sudirman - Pasar Baru untuk mencapainya. Dari lampu merah perempatan Sudirman - Pasar Baru, kira-kira 100 meter di sebelah kiri, anda bisa temukan Roti Bakar Gang Kote ini. Selamat berburu dan menikmatinya rame-rame!
Setelah nyaris luput, akhirnya Selasa kemarin (1 Mei) berhasil juga nonton Kala di TIM 21. Tepat sehari sebelum menghilang. Di pasar, Kala memang terhitung tidak terlalu berhasil menyerap penonton sehingga jatahnya untuk bercokol di jaringan bioskop 21 sangat singkat.
Lebih menyenangkan lagi karena sebulan sebelum saya juga telah disodori film bagus lainnya: Naga Bonar Jadi 2 karya Deddy Mizwar. Ini film yang tidak cuma sangat bagus dan menghibur, tapi juga sangat sukses secara komersial. Hingga hari ini jumlah penontonnya sudah mendekati angka 1 juta penonton dan masih diputar terus di bioskop dan dipadati penonton.Ekspresi Bondan Winarno di acara Wisata Kuliner untuk menggambarkan kelezatan makanan yang dinikmatinya ini sangat cocok dipinjam untuk menggambarkan kelezatan pork knuckle yang secara tidak sengaja saya temukan di Singapura.
Tidak sengaja saya temukan karena, tadinya, saya pikir makanan se-otentik ini baru bisa dinikmati kalau kebetulan kita beruntung bisa berkunjung ke negeri Jerman. Itu saya alami ketika berkunjung ke kota Munchen, 4 tahun silam. Lepas dari situ, saya tak pernah lagi menikmati knuckle ini. Padahal, nikmatnya bisa dibilang super maknyusss. Tentu buat anda yang bisa menikmatinya. Eh, dilalah, di Bukit Pasoh Road di kawasan Chinatown Singapura saya menemukan sebuah restoran makanan otentik Jerman dan dimiliki oleh orang Jerman. Jackpot!
Restoran ini saya temukan hanya berjarak 30 meter dari hotel saya menginap, New Majestic Hotel. Lokasinya berada di kawasan Chinatown. Buat teman-teman kreatif era 90an yang sering mondar-mandir ke VHQ di Duxton Hill Road, kawasan ini tentu sudah tak asing lagi. Sekarang, di kawasan ini banyak bermunculan hotel-hotel butik yang khas hasil renovasi ruko-ruko kuno yang tidak boleh dirubuhkan. Restoran bernama Magma German Wine Bistro & Restaurant yang berada di salah satu ruko kuno ini dimiliki oleh orang Jerman dengan chef yang juga orang Jerman. Selain menyajikan makanan Jerman otentik, Magma juga mengedepankan wine cellar mereka yang mempromosikan jenis wine asal Jerman. Bahkan mereka membuka wine club bagi para penggemar wine asal Jerman.
Jadi, buat anda yang kebetulan beruntung sempat bertandang ke negeri jiran ini dan ingin berpetualang kuliner, tidak ada salahnya untuk mencoba. Sekali lagi tentu bila boleh makan makanan jenis ini. Daripada melulu berkeliaran di Orchard Road menghabiskan limit kartu kredit, hehehe. Satu porsi knuckle pork roasted di Magma juga tergolong ekonomis untuk standar harga hidangan di Singapura. Tidak lebih dari 25 dollar Singapura seporsinya. Bahkan, bisa dibilang, lebih murah dari harga ribs di resto Amerika terkenal yang ada di Jakarta.Kayak bunyi iklan ya? hehehe. Memang sih, sebagai penggemar kopi yang bisa menyeruput sampai 5-6 cangkir per hari, saya punya sedikit pengalaman membeli biji kopi dari berbagai sumber. Pabrik Koffie Aroma adalah salah satu tempat favorit di Bandung yang pernah saya tulis. Sekarang saya mau nambahin daftarnya. Siapa tahu ada yang pengen mencobanya juga.